Tampilkan postingan dengan label belas kasihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belas kasihan. Tampilkan semua postingan

18 Januari 2010

Waktunya Bintang bercahaya

Ambilkan Bulan Bu
Ambilkan Bulan Bu
Yang selalu bersinar di langit
Di langit, Bulan benderang
Cahyanya sampai ke Bintang

Tau kan lagu anak-anak di atas? Waktu kita kecil kita sangat senang dengan Bulan karena cahyanya benderang. Tapi tau enggak kalo lagu itu rancu? Bukan Bulan yang cahyanya sampe ke Bintang, justru sebaliknya, Bulan mendapatkan cahayanya tersebut dari Bintang, yakni matahari. Bulan tidak mempunyai cahayanya sendiri, ia hanya memantulkan cahaya matahari atau bintang ke bumi. Tetapi Bintang mempunyai cahayanya sendiri, termasuk matahari.

Pernahkah kamu menggelar tikar di lapangan luas pada malam hari dan tidur menatap langit penuh bintang? Sangat indah bukan? Coba kamu gelar tikar itu, pandangi langit sekali lagi, tapi kali ini di siang hari! Hasilnya pasti silau, en kamu cuman liat awan-awan doang. Lho.. bintangnya pada kemana? Apakah bintang-bintang tersebut hilang? Tidak kan? Kamu pasti percaya bahwa bintang-bintang itu masih pada tempatnya. Hanya saja tidak keliatan.

“..supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Filipi 2:15 ).

Mungkin di antara kita ada yang komplen, kenapa sih Indonesia bahkan dunia ini makin hari makin kacau aja? Kapan sih Indonesia adem ayem tentrem? Kapan sih RT-RW kita adil makmur sejahtera? Kok, makin hari makin gelap aja!

Hey! Liat lagi kalimat terakhir tadi, “kok, makin hari makin gelap aja?”. Bukankah gelap itu adalah kesempatan buat bintang biar kelihatan bercahaya? Ayat diatas bilang kalo kita-kita inilah bintang-bintang yang bercahaya di tengah angkatan yang bengkok dan dunia yang makin gelap! So, jangan komplen kalo makin dunia gelap, karena itu kesempatan anak-anak Tuhan buat bisa mancarin cahayanya.

CARA HIDUP DI BUMI
Orang banyak pikir kita jadi terangnya Tuhan alias jadi bintang-bintangnya Tuhan itu cukup dengan cara berdoa, melayani Tuhan di gereja, memisahkan diri dari “dunia”, hidup “kudus” en suci, layaknya hidup di sorga. Ya, kadang kita tau “cara hidup di sorga”, tapi nggak tau “cara hidup di bumi”!Gimana emang cara hidup di bumi?"

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:13-16).

Yap. Berbuat baik agar orang memuliakan Bapa. Itulah cara hidup di bumi. Banyak orang berbuat baik. Sidharta Gautama berbuat baik, bahkan Britney Spears berbuat baik, tapi kita harus lebih dari berbuat baik karena 4 alasan:1. Karena kita cinta Tuhan, cinta jiwa-jiwa dan cinta tanah air.2. Agar orang melihat dan kemudian memuliakan Bapa di Sorga (Matius 5:16)3. Karena “..tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Tim 3:17)4. Karena “..jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17)5. Karena kita harus berbuat baik meskipun orang lain berbuat jahat kepada kita, “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” (Lukas 6:33).

Banyak orang berbuat baik, Sidharta Gautama berbuat baik bahkan Britney Spearspun berbuat baik, tapi anak-anak Tuhan tidak berbuat baik, itulah hal yang ironis. Dan tragis.

TENGOK
Masih ingat cerita orang Samaria yang menolong orang yang terluka? (Lukas 10:33-35). Atau cerita pemenang Nobel di atas? Atau perjalanan hidup Bunda Theresa?

Coba tengok sekeliling kita. Pernahkah kita ajak makan pengamen yang tiap siang berdiri depan pintu kos sambil menggenjreng gitar bututnya? Pernahkah kita memberi sesuatu yang lebih dari sekeping logam 100 perak sama pengemis yang selalu kita jumpai di depan gerbang kampus? Pernahkah kita turun dari sepeda motor, menutupi lubang-lubang di jalan agar orang tidak terjatuh, lalu berhenti mengomel tentang ketua RW kita yang nggak peduli sama jalanan? Pernahkah kita datang sama tetangga kita yang sakit dan mengantarkannya berobat? Pernahkah kita pergi ke rumah sakit dan menghibur orang yang dalam penderitaan? Pernahkah kita menghampiri tukang parkir di sekolah kita dan memberinya sekaleng kue untuk dia merayakan idul fitri dengan keluarganya?

Lupakanlah diri kita sendiri demi orang lain dan orang lain tidak akan melupakan kita. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 7:12).

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9).

So, hari makin gelap. Waktunya Bintang bercahaya.

22 Januari 2009

Ada Apa Dengan CINTA?

Tuhan pernah menegor jemaat EFESUS dalam kitab Wahyu karena mereka telah meninggalkan KASIH yang mula-mula. Bicara tentang kasih kita bisa banyak belajar dalam 1 Korintus 13.
Mengapa kita bisa kehilangan kasih yang mula-mula? Jawabannya adalah karena kita lebih mementingkan aktivitas ketimbang membangun hubungan. Lihat saja jemaat Efesus mereka bukannya tidak melakukan banyak hal yang bisa dikatakan sebagai pelayanan. Namun, Tuhan tetap menegor mereka telah kehilangan kasih mula-mula.

Contoh lain yang sangat menyatakan perbedaan itu adalah kisah Maria dan Marta. Maria memilih untuk duduk di bawah kaki Yesus dan mendengarkan apa yang dikatakan DIA sedangkan Marta menyibukkan dirinya dengan berbagai-bagai kegiatan. Ini mencerminkan bahwa kasih mula-mula lebih mengutamakan membangun hubungan bukan sekedar beraktivitas banyak dalam pelayanan.

Dalam 1 Korintus 13 : 1-2
13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Bagian ini merupakan prolog dari sebuah tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus mengenai KASIH. Gereja (baca: orang percaya) bisa saja memiliki banyak karunia-karuni yang luar biasa seperti dikatakan dalam ayat 1 dan 2 namun hal tersebut tidak berguna sama sekali jika tidak adanya KASIH.

Mungkin pertanyaan yang timbul dalam hati kita adalah "Apakah mungkin orang percaya bisa memiliki karunia tapi tidak mempunyai kasih?" Yaps, Karunia dapat dimiliki orang percaya karena itu pemberian Tuhan sedangkan kasih merupakan Karakter, jadi sangatlah mungkin terjadi orang yang memilki karunia tapi tidak memiliki kasih. Dasar pelayanan seharusnya dengan kasih bukan atas yang lain, dan itu hanya bisa diketahui oleh yang bersangkutan dan Tuhan.

1 Korintus 13 : 3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Pemberian yang dilakukan juga bisa tanpa kasih, contoh: memberi kepada pengemis

1 Korintus 13 : 4-7
13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih itu SABAR..kapan kita tahu kalau kita memilki kasih? Jawabnya adalah kalau kita SABAR. dan kapan kita tahu bahwa kita ini orang sabar atau tidak kalau kita tidak pernah ada yang menguji kesabaran kita. Berbahagialah kalau kita diuji dalam berbagai hal mengenai kesabaran ini.

1 Korintus 13 : 8-13
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Ketika kasih terus-menerus bekerja dalan hidup kita maka akan ada pertumbuhan menjadi gereja (baca: orang percaya) yang dewasa...Mari kita bertumbuh dalam pengenalan akan DIA karena DIA yang menjanjikannya Setia. Amin

Karakter yang Dewasa

Hal yang mau dibahas kali ini adalah tentang karakter yang dewasa.
Dalam 1 Petrus 1 : 6-7 dikatakan bahwa
1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Pencobaan yang terjadi dalam hidup kita adalah salah satu dari maksud pemurnian iman kita sendiri. Di saat krisi mulai melanda, kita harus memiliki mental yang tahan uji. Tahan uji disini dimaksudkan sebagai karakter yang dewasa dan berintegritas. Anak-anak Tuhan harus memiliki karakter tersebut.

Tuhan adalah Tuhan yang tidak mempedulikan penampilan luar tetapi DIA lebih mengutamakan KARAKTER. Bagaimana dengan karakter kita semua? Allah mempersiapkan kita untuk maksud kekelana dan bukan hanya untuk dunia yang fana ini saja. Oleh karenanya, DIA mengijinkan banyak hal yang terkadang mencobai kita dan terjadi di bumi ini hanya untuk membentuk karakter kita. DIA menginginkan kita memiliki karakter-karakter seperti KRISTUS.

Sebenarnya, hanya ada tiga sumber masalah, yaitu:
  1. Diri kita sendiri : kita terjebak dengan hawa nafsu dan keinginan sehingga terjadi banyak hal-hal yang dikatakan sebagai pencobaan. Sumber ini merupakan sumber TERBESAR dalam penyebab masalah.

  2. Dunia : ingat bahwa dunia ini ada di bawah hukum dosa sehingga akan ada banyak masalah juga yang terjadi akibat dunia ini.

  3. Setan : penyebab lainnya adalah pekerjaan Iblis.

Nah, Jika kita tau bahwa ada banyak masalah yang berpotensi untuk menggugurkan iman kita, maka kita harus berupaya untuk tidak mengalami hal itu. Allah ingin sekali menggarap banyak hal dalam diri kita masing-masing supaya visi-Nya tergenapi dalam setiap kehidupan kita. Apa saja yang ingin Allah garap dan kerjakan untuk menjadikan kita tahan uji?

  • KARAKTER : ini adalah yang utama, karakter berbeda dengan karunia (lihat tulisan saya sebelumnya)

  • INTIMACY (Keintiman) : Dia Tuhan yang menginginkan kita memiliki hubungan yang erat dengan-Nya.

  • KEMULIAAN : Dia menginginkan kita semua memancarkan terang kemuliaan-Nya.

  • Supaya kita menghasilkab BUAH.

  • Berbelas kasihan : belas kasihan ini muncul karena kita pernah mengalami sesuatu dan telah dipulihkan dari hal itu.

Kasih Tuhan memang tidak bersyarat, namun untuk berkat-Nya itu ada syarat. Seringkali kita memiliki reaksi yang kurang tepat dalam menghadapi masalah.

  1. Mengamuk or Mengeluh : reaksi ini adalah reaksi yang tidak jarang kita jumpai dalam kehidupan. Terkadang kita paling susah untuk urusan pembentukan karakter. Kita pengen masalah itu berhenti dan selesai seketika, namun itulah maksud pemurnian iman.

  2. Menyalahkan Orang Lain : tidak jarang juga saat masalah terjadi, reaksi kita adalah menyalahkan orang lain, alis mencari kambing hitam, bahkan tidak jarang juga TUHAN dijadikan kambing hitam dan disalahkan atas masalah itu. Yakobus 2 : 12 berkata "Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang." Penghakiman yang tidak berbelas kasihan akan berlaku atas orang-orang yang tidak ebrbelaskasihan juga. dan satu hal yang harus dipahami adalah BELAS KASIHAN akan menang atas penghakiman.

  3. "Ya sudah saya akan hadapi masalah ini" : Bapa mengijinkan proses terjadi hingga DIA membantu tepat pada waktu-Nya. Tidak ada jalan pintas selain mendengar dan mentaati-Nya.

Pendewasaan karakter dan pemurnian iman akan membuat kita semakin kokoh dalam mengahdapi berbagai masalah dan krisis sekalipun. Tuhan memberkati kita semua.. Amin